Tugas 10
A. Pengertian Disiplin Kelas
Perkataan disiplin berasal dari bahasa Yunani “Disciplus” yang artinya murid atau pengikut seorang guru. Seorang murid atau pengikut harus tunduk kepada peraturan, kepada otoritas gururya. Karena itu disiplin berarti kesediaan untuk mematuhi ketertiban agar murid dapat belajar. Adapun menurut kamus umum Bahasa Indonesia, W.J.S Poerwadarminta, istilahdisiplin mengandung pengertian sebagai berikut:- Latihan batin dan watak dengan maksud supaya segala perbuatannya selalu mentaati lata tertib di sekolah.- Ketaatan pada aturan dan lata tertib. Berdasarkan pengertian tersebut di alas maka dapatlah penulis katakan bahwa disiplinadalah rasa tanggung jawab dari pihak murid berdasarkan kematangan rasa sosial untuk mematuhi segala aturan dan lata tertib di sekolah sehingga dapat belajar dengan baik. Dan juga disiplin bukan hanya suatu aspek tingkah laku siswa di dalam kelas/sekolah saja, melainkan juga di dalam kehidupannya di masyarakat sehari-hari. Dengan demikian anak yang tidak mengenal disiplin akan cenderung menjadi anak nakal/pembangkang, oleh karena itu, pembentukan disiplin adalah sejalan dengan pendidikan watak.
Dengan disiplin dimaksudkan sebagai upaya untuk mengatur atau mengontrol perilaku anak untuk mencapaitujuan pendidikan karena ada perilaku yang harus dicegah atau dilarang dan sebaliknyaharus dilakukan. Pembentukan disiplin pada saat sekarang bukan sekedar menjadikan anakagar patuh dan taat pada aturan tata tertib tanpa alasan mau menerima begitu saja,melainkan sebagai upaya mendisiplinkan diri sendiri (self discipline) atau self control, artinyaia berperilaku baik, patuh dan taat pada aturan bukan karena paksaan dari orang lain atauguru melainkan karena kesadaran dari dirinya. Disiplin bukanlah kepatuhan lahiriah, bukanlah paksaan, bukanlah ketaatan kepada otoritas gurunya untuk menuruti aturan. Disiplin adalah suatu sikap batin bukan kepatuhan otomatis untuk melaksanakan yang baik.Seperti di atas bahwa disiplin merupakan rasa tanggung jawab siswa berdasarkan kematangan sosial untuk mentaati aturan/tata tertib. Dahulu memang dianggap disiplin dalam kelas itu baik, bila siswa diam berjam-jam lamanya di bawah pengawasan guru yang bersikap keras. Sekarang ini tidak lagi dlinginkan disiplin demikian, karena siswapun bertanggung jawab untuk menciptakan suasana kelas yang baik. Suasana kelas yang baik,tidak tegang, ada kebebasan tetapi ada pula kerelaan mematuhi peraturan dan tata tertib sekolah.
B. Sumber Pelanggaran Disiplin
Adalah suatu asumsi yang menyatakan bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya untuk mencapai tujuan yaitu pemenuhan kebutuhan.Kebutuhan manusia meliputi kebutuhan- kebutuhan berikut ini:
a. Kebutuhan fisik ( physical needs) manusia, yaitu kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia
b. Kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan ( security and safety) yaitu kebutuhan keselamatan dan rasa aman baik fisik maupun perasaan keamanan terhadap masa depan yang dihadapinya
c. Kebutuhan rasa diterima dan cinta kasih yaituberupa kebutuhan mencintai orang lain dan dicintai orang lain, penerimaan, pembenaran, dan cinta orang lain pada dirinya
d. Kebutuhan akan kehormatan harga diri (respect of self esteem) yaitu kebutuhan merasa dirinya berguna bagi orang lain, mempunyai pengaruh terhadap orang lain, dan sebagainya
e. Kebutuhan akan pengetahuan dan pemahaman (knowledge and understanding) terhadap berbagai hal agar individu dapat mengambil berbagai keputusan yang bijaksana terhadap beberapa hal dalam menghadapi dunianya secara efektif
f. Kebutuhan akan keindahan dan aktualisasi diri (beauty and self actualization) yaitu kebutuhan untuk memperoleh pengalaman mengaktualisasikan dirinya dalam dunia nyata secara langsung agar dari pengalamannya ia akan lebih kreatif, toleran dan spontan.
( Maslov dalam Entang dan Raka Joni:24-25).
Secara berurutan (dari bawah ke atas), manusia menghendaki terpenuhinya semua kebutuhan tersebut yang diperoleh dengan cara yang wajar, umum sesuai dengan aturan yang berlaku. Dengan logika seperti itu, mungkin pula pelanggaran disiplin di sekolah bersumber pada lingkungan sekolah yang tidak memberikan pemenuhan terhadap semua kebutuhan peserta didik khususnya, misalnya seperti berikut:
a. Tipe kepemimpinan guru atau sekolah yang otoriter yang senantiasa mendiktekan kehendaknya tanpa memperhatikan kedaulatan subjek didik
b. Pemberian hak- hak kelompok besar anggota sebagai peserta didik oleh sekolah atau guru
c. Sekolah atau guru tidak atau kurang memperhatikan kelompok minoritas baik yang ada di atas atau di bawah rerata dalam berbagai aspek yang ada hubungannya dengan kehidupan sekolah
d. Sekolah atau guru kurang melibatkan dan kurang mengikutsertakan para peserta didik untuk bertanggung jawab terhadap kemajuan sekolah sesuai dengan kemampuannya
e. Sekolah atau guru kurang memperhatikan latar belakang kehidupan peserta didik dalam keluarga ke dalam subsistem kehidupan sekolah
f. Sekolah kurang mengadakan kerja sama dengan orang tua dan keduanya juga saling melepaskan tanggung jawab.
Masalah dari guru atau pendidik
1. Guru mempunyai masalah pribadi yang dapat mengganggu dirinya sehingga terbawa kedalam kelas.
2. Pendidik tidak menguasai materi sehingga peserta didik kurang paham.
3. Pendidik tidak memiliki berwibawa..
4. Guru tidak mempunyai hubungan baik dengan siswa.
5. Guru tidak membawa keteladanan.
6. Guru kurang menggunakan media, strategi, dan metode mengajar dengan baik.
Masalah yang ditimbulkan oleh peserta didik
Sejumlah hal yang disebabkan oleh peserta didik berikut ini cenderung memberikan kontribusi atau membuat disiplin kelas terganggu seperti:
1. Anak yang suka berbuat aneh untuk menarik perhatian di kelas
2. Anak yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis atau kurang perhatian dari orang tuanya
3. Anak yang sakit
4. Anak yang tidak punya tempat untuk mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah
5. Anak yang kurang tidur
6. Anak yang malas
7. Anak yang pasif
8. Anak yang menentang kepada semua peraturan
9. Anak yang pesimis terhadap semua keadaan
10. Anak yang berkeinginan berbuat segalanya dikuasai secara “sempurna”
Sementara itu, gangguan disiplin yang datang dari kelompok peserta didik dapat berupa :
1. Ketidakpuasan atas pekerjaan kelas
Disebabkan oleh tugas yang terlalu mudah atau terlalu sulit, beban terlalu ringan atau terlalu berat, penugasan cenderung kurang terbuka karena mereka tidak siap.
2. Hubungan interpersonal lemah
Dapat terjadi karena pengelompokkan pertemanan atau klik dan peran kelompok sangat lemah.
3. Gangguan suasana kelompok
Disebabkan oleh suasana tercekam kompetisi yang berlebihan dan sangat eksklusif ( kelompok menolak individu yang tidak siap)
4. Pengorganisasian kelompok lemah
Ditandai oleh tekanan otokrasi yang berlebihan atau lemahnya supervisi dan pengawasan, standar perilaku yang terlalu tinggi atau rendah, dan sebagainya
5. Emosi kelompok dan perubahan mendadak
Dapat diakibatkan oleh kelompok memiliki watak atau tempramen kekhawatiran tinggi, kejadian depresi yang mendadak, ketakutan atau kegemparan, serta kelompok dihinggapi rasa bosan dan kurang berminat atau emosionalnya lemah.
Masalah yang ditimbulkan lingkungan
1. Lingkungan rumah atau keluarga, seperti kurang perhatian, ketidakteraturan, pertengkaran, ketidakharmonisan, dan lain- lain
2. Lingkungan atau situasi tempat tinggal, seperti lingkungan kriminal, lingkungan bising dan lingkungan minuman keras
3. Lingkungan sekolah, seperti kelemahan guru, kelemahan kurikulum, kelemahan manajemen kelas, ketidaktertiban, dan kekurangan fasilitas
4. Situasi sekolah seperti: hari- hari pertama dan hari- hari akhir sekolah ( akan libur atau sesudah libur), pergantian pelajaran, pergantian guru, dan lain- lain.
Sebab- sebab pelanggaran disiplin kelas itu selain bersifat pribadi juga ada sebab- sebabnya yang bersifat umum, seperti:
a. Kebosanan dalam kelas merupakan sumber pelanggaran disiplin ( mereka tidak tahu lagi apa yang harus mereka kerjakan karena yang dikerjakan itu ke itu saja)
b. Perasaan kecewa dan tertekan karena siswa dituntut untuk bertingkah laku yang kurang wajar sebagai anak remaja
c. Tidak terpenuhinya kebutuhan akan perhatian, pengenalan, atau keberadaan pribadi siswa atau status.
C. Hubungan Antara Hak, Kebutuhan Siswa, dan Tampilan Guru dengan Disiplin
Beberapa hak siswa yang penting dan yang perlu dijamin adalah:
1 Hak menyelesaikan pendidikan sebaik- baiknya
2.Hak persamaan kedudukan atau kebebasan dari diskriminasi dalam kelompok
3. Hak berekspresi secara pribadi
4. Hak keleluasaan pribadi
5. Hak menyeleseikan (study) secara cepat ( Neil dan Wiler, 1990)
Hak- hak itu merupakan hak- hak umum yang dimiliki para siswa. Dalam kaitan ini guru harus berusaha menerapkan hak- hak mereka dalam praktek- praktek disiplin baik pada kebijakan sekolah maupun peraturan atau hukum. Untuk hal tersebut, perlu ada garis kesejajaran antara disiplin yang seharusnya ditegakkan dengan pertimbangan peraturan yang dibuat.
Kebutuhan para siswa adalah faktor yang relevan dalam menentukan sistem disiplin kelas atau sekolah. Satu contoh adalah hak dan kebutuhan tertentu dari siswa cacat dan siswa yang perlu mendapat perhatian khusus. Berkaitan dengan sejumlah besar kebutuhan para siswa, guru perlu mempertimbangkan dalam menentukan program disiplin kelas yang relevan dengan mata pelajaran yang sedang diajarkan, tingkat kemampuan umum para siswa, dan latar belakang sosio- ekonomi para siswa.
Keberadaan guru di kelas tidak hanya bertugas menyampaikan kurikulum atau materi yang direncanakan kepada para siswa, tetapi keteladanan dan kepatuhan guru terhadap peraturan tata tertib yang mengatur guru itu sendiri perlu ditampilkan. Materi dan disiplin harus dikaitkan dengan pemahaman umum dari apa yang diharapkan para siswa.
Faktor disiplin penting lain dapat berkembang pada sejumlah guru di tingkat sekolah dasar dan menengah yang mengajar dalam bentuk tim. Walaupun guru tersebut tidak secara nyata mengajar bersama, mereka membuat perencanaan bersama dan menyampaikan atau menyisipkan bahan tersebut kepada para siswa dalam bahasa yang sama, pada ruang atau waktu saat para guru mengajar. Karena para siswa diajar oleh tiap- tiap guru dalam kelompok, komponen penting dari disiplin harus dirumuskan, kalau tidak dirumuskan akan terjadi ketidakkonsistenan antara siswa yang satu dengan siswa yang lain dalam menangkap makna materi. Misalnya seorang guru membiarkan seorang siswa mencontek, sementara yang lain tidak diizinkan.
Guru baru harus memandang mereka sendiri sebagai bagian kelompok atau tim yang bertanggung jawab menyampaikan prencanaan pendidikan tentang disiplin. Mereka hendaknya tidak sebagai seorang ahli yang berpraktek dalam kelas yang terisolasi, melainkan perlu keterpaduan antara teori dan praktek.
DAFTAR PUSTAKA
Ekosiswoyo Rasdi, Maman Rachman. 2000. Manajemen Kelas. Semarang: CV. IKIP Semarang Press.
Sangat bermanfaat
BalasHapusTerima kasih atas materi yang diberikan👍😊
BalasHapusMaterinya sangat bagus👍
BalasHapusMaterinya bagus, sangat bermanfaat🙏
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bagus
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapus